Madinah
Madinah atau Madinah Al
Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه,
(juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota
yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat
Masjid Nabawi yang memiliki pahaladan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini,
penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota
ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.
Sejarah
Pada
masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai
pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah,
kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam
sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat
tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat
terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan
beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota
Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi
keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk
Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar
Madinah.
Kini Madinah bersama kota suci Mekkah
berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.
Khulafa ur rasyidin
1.
Perkembangan Islam Pada Masa Abu Bakar Ash Shiddiq
Ketika
Rasulullah wafat, jabatan pemerintahan atau kekhalifahan umat Islam digantikan
oleh seorang sahabat senior, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau menjabat
sebagai khalifah pertama menggantikan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai
kepala negara dan kepala pemerintahan. Selama kekhalifahannya, permasalahan
yang muncul sebagai berikut: Menumpas nabi palsu (Nabi-nabi palsu yang ingin menghancurkan
Islam diantaranya.: Al- Aswad al Ansi, Thulaihah bin Thuwailid al Asadi, Malik
bin Nuwairah, Musailamah al Kazab), Memberantas kaum murtad, Menghadapi kaum
yang ingkar zakat dan Modifikasi Al-Qur’an.
Abu
Bakar juga sempat mengadakan perluasan wilayah kekuasaan Islam ke berbagai
daerah, terutama ke daerah Syiria yang masih dikuasai oleh pasukan Romawi Timur
(Byzantium). Dalam usaha ke arah itu, Abu Bakar mengirim beberapa panglima
dengan segenap pasukannya. Diantara panglima yang dikirim itu adalah: Yazid bin
Abi Sufyan yang dikirim ke Damaskus, Abu Ubaidah bin Jarrah dikirim ke Himsho,
Amr bin Ash dikirim ke Palestina dan Suranbil bin Hasanah dikirim ke Yordania.
Usaha
perluasan kekuasaan ke wilayah Syiria ini, sebenarnya sudah dimulai sejak Nabi
Muhammad SAW masih hidup di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Usaha itu sempat
dihentikan, karena mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah SAW. Kemudian
usaha itu dilanjutkan kembali pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan kekuatan
empat panglima tersebut di atas. Ditengah usaha penaklukan itu, pasukan Abu
Ubaidah merasa kewalahan menghadapi pasukan Romawi Timur tersebut, lalu
dikirimkan 1500 pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid.
Perang
berlangsung cukup lama, tetapi di tengah berkecamuknya peperangan melawan
pasukan Romawi Timur itu, tiba-tiba terdengar berita tentang wafatnya Abu Bakar
(tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 Masehi). Setelah
pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M) . Kemudian
kekhalifahan pun digantikan oleh sahabat Umar bin Khattab.
2.
Perkembangan Islam Pada Masa Umar bin Khattab
Seperti
halnya Abu Bakar, Umar bin Khattab pun segera menggiatkan usaha perluasan
kekuasaan Islam ke berbagai wilayah yang lebih luas lagi. Pertempuran demi pertempuran
dapat dimenangkan dengan gemilang. Wilayah kekuasaan Islam pun semakin
bertambah luas. Dalam pertempuran di Ajnadin tahun 16 H/636 M tentara Romawi
dapat dipukul mundur, dan selanjutnya beberapa kota di pesisir pantai Syiria
juga dapat dikuasai seperti Jaffa, Gizar, Ramlan, Typus, Arce, dan Askolan
bahkan Bairut juga dapat ditundukkan pada tahun 18 H/638 M. Kota Bairut
diserahkan sendiri oleh Patrik, penguasa Romawi di kota itu kepada Umar bin
Khattab.
Selain
ke Persia usaha perluasan juga di arahkan ke wilayah Mesir. Ketika itu bangsa
asli Mesir, yakni suku Qibty (qobti) sedang mendapat serangan dari bangsa
Romawi. Mereka sangat mengharapkan bantuan dari kaum Maslimin. Setelah berhasil
menaklukkan Syiria dan Palestina. Khalifah Umar bin Khattab mengarahkan
pasukannya yang berkekuatan komando panglima Mesir. Pasukan itu dibawah komando
panglima Amr bin Ash.
Selain
mengadakan perluasan wilayah kekuasaan Islam ke berbagai daerah. Khalifah Umar
bin Khattab juga banyak berjasa dalam hal pembuatan undang-undang negara.
Peraturan perundang-undangan yang berisi tentang ketatanegaraan dan tata
pemerintahan, dibentuk pada masa kekhalifahan ini. Khalifah juga menetapkan
penanggalan hijriah dan menetapkan perhitungan tahun baru, yaitu tahun hijriyah
yang dimulai dari hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah (16 Juli 622
M). Maka terhitung sejak kepemimpinan beliau yaitu tahun 16 H (637 M) mulai
dipergunakan penanggalan hijriyyah. Khalifah juga melakukan pengumpulan
tulisan-tulisan al-qur’an dan berijtihad dalam pelaksanaan sholat tarawih
berjama’ah.
Khalifah
Umar bin Khattab juga membentuk beberapa dewan, yang diantaranya adalah Dewan
Perbendaharaan Negara dan Dewan Militer. Lembaga Kejaksaan dan Dewan
Pertimbangan Hukum juga dibentuk pada masa kekhalifahannya. Banyak hakim-hakim
yang masyur pada masa itu, di antaranya Ali bin Abu Thalib. Khalifah Umar
pulang kerahmatullah pada tanggal 26 Dzul Hijjah 23 H/3 November 644 M dalam
usia 63 tahun. Beliau memegang amanat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan
(13-23 H/634-644 M). Atas persetujuan Siti Aisyah istri rasulullah Jenazah
beliau dimakamkan berjajar dengan makam Rasulullah dan makam Abu Bakar.
3.
Perkembangan Islam Pada Masa Ustman bin Affan
Ketika
khalifah Umar bin Khattab meninggal, pemerintahan diserahkan kepada Utsman bin
Affan. Khalifah Ustman berjasa dalam pembukuan mushaf. Di masa khalifah ketiga
ini juga terjadi upaya perluasan wilayah, terutama penaklukan ke Persia,
Azerbeijan, Tabaristan dan Armenia. Penaklukan besar-besaran juga dilakukan
pada masa khalifah Utsman bin Affan ini, apalagi setelah dibentuknya armada
laut. Satu demi satu beberapa pulau di Asia kecil, pulau Cyprus, Rhodes
Tunisia, Nubia, dan pesisir laut hitam.
Semakin
hari, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Untuk menjaga stabilitas negara
diadakan pengalaman yang ketat terhadap para pemberontak yang ketat terhadap
para pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah yang berontak itu, antara
lain daerah di luar Azerbeijan, Iskiandariyah dan wilayah Persia. Meskipun
sistem keamanan diperketat tetapi para pemberontak semakin marak di berbagai
daerah penaklukkan. Apalagi setelah masyarakat Islam menilai bahwa khalifah
Utsman bin Affan bersikap nepotisme (mementingkan kepentingan keluarga).
Beliau wafat pada hari Jum’at 18 Dzulhijjah 35 H(656 M). Setelah beliau
wafat ke Khalifahan dipegang oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ra.
Sifatnya
yang lemah lembut dan berhati sosial telah meninggalkan jasa yang tidak sedikit
untuk kepentingan Islam, antara lain: Menyempurnakan pembukuan Al-Qur’an,
Merenovasi bangunan Masjid Nabawi di Madinah , Membentuk angkatan laut atas
usul Muawiyah bin Abu Sofyan, Membangun gedung-gedung pengadilan yang semula
masjid-masjid, Menumpas pemberontakan-pemberontakn seperti di Khurasan dan
Iskandariyah, Membagi wilayah Islam menjadi 10 Propinsi yang dipimpin oleh
seorang Amir/Wali/Gubernur, meliputi: (Al Jund-Abdullah bin Rabi’ah, Basrah-Abu
Musa bin Abdullah, Damaskus-Muawiyah bin Abu Sofyan, Emese-Umar bin Sa’ad,
Bahrain-Usman bin Abil Ash, sha’a-Ja’la bin Munabbik, Taif-Sufyan bin Abdullah,
Mesir-Amr bin Ash, Mekkah-Nafi’ bin Abdul Maris, dan Kuwait-Mughiroh bin Sya’bah),
Ekspansi Islam, meliputi: Armenia, Tripoli, Thabaristan, Harah, Barkoh, Kabul,
Ghanzah dan Turkistan.
4.
Perkembangan Islam Pada Masa Ali bin Abi Thalib
Ali
Bin Abi Thalib adalah khalifah yang memiliki kelebihan tersendiri dalam sikap
dan kepribadiannya. Ia adalah seorang pemberani dan tegas dalam melaksanakan
sesuatu. Ia sangat mencintai keadilan dan kebenaran. Langkah pertama yang ia
lakukan adalah mengganti para gubernur yang sebelumnya diangkat oleh khalifah
Utsman bin Affan.
Akibat
yang lebih jauh dari tindakan Ali bin Abi Thalib itu, muncullah beberapa
golongan yang berdiri sendiri dan semuanya menyatakan menentang Ali bin Thalib.
Diantara golongan itu adalah golongan Mu’awiyyah, golongan Aisyah, Zubair, dan
Tholhah serta golongan yang setia kepada Ali sendiri.
Golongan-golongan
itu mengakibatkan munculnya berbagai peperangan, seperti perang Jamal dan
perang Shiffin. Terjadinya perang Jamal menyebabkan munculnya dua kelompok,
yakni Khawarij dan Syi’ah. Khawarij adalah orang-orang yang semula setia kepada
Ali bin Abi Thalib, tetapi kemudian ke luar dari barisan Ali bin Abi Thalib
setelah mereka merasa tidak puas dengan tindakan Ali bin Abi Thalib yang
menghentikan peperangan untuk Tahkim. Tahkim adalah upaya penghentian perang
dengan mengangkat Al-Qur’an tinggi-tinggi, agar kedua belah pihak yang
bersengketa mau kembali kepada hukum Allah SWT.
Syi’ah
adalah kelompok yang tetap setia kepada Ali bin Abi Thalib.
Kebijaksanaan
Ali bin Abi Thalib mengambil takhim, akhirnya membuat bumerang bagi dirinya,
dan menghantarkan nyawanya melayang di tangan Ibnu Muljam pada pada 20 Ramadhan
41 H / 24 Januari 661 M. Umat Islam yang tetap setia kepada Ali, akhirnya
mengangkat Hasan bin Ali menjadi khalifah selama beberapa bulan , tetapi
ternyata beliau lemah sementara Mu’awiyah semakin kuat maka Hasan bin Ali
membuat perjanjian damai. Setelah itu kepemimpinan digantikan oleh Mu’wiyah
yang mencetuskan sistem pemerintahan yang absolut. Dengan demikian berakhir apa
yang disebut dengan masa Khulafaur Rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani
Umayah.
kemajuan islam pada masa dinasti bani umayyah
Kemajuan Islam di masa Daulah Umayyah meliputi berbagai bidang, yaitu
politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Di antaranya yang
paling spektakuler adalah bertambahnya pemeluk Agama Islam secara cepat dan
meluas. Semakin banyaknya jumlah kaum Muslimin ini terkait erat dengan makin
luasnya wilayah pemerintahan Islam pada waktu itu. Pemerintah memang tidak
memaksakan penduduk setempat untuk masuk Islam, melainkan mereka sendiri yang
dengan rela hati tertarik masuk Islam. Akibat dari makin banyaknya orang masuk
agama Islam tersebut maka pemerintah dengan gencar membuat program pembangunan
Masjid di berbagai tempat sebagai pusat kegiatan kaum Muslimin. Pada masa
Khalifah Abdul Malik, masjid-masjid didirikan di berbagai kota besar. Selain
itu, beliau juga memperbaiki kembali tiga Masjid utama umat Islam, yaitu
Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsa (Yerusalem) dan Masjid Nabawi (Madinah).
Al-Walid, Khalifah setelah Abdul Malik yang ahli Arsitektur, mengembangkan
Masjid sebagai sebuah bangunan yang indah. Menara Masjid yang sekarang ada
dimana-mana itu pada mulanya merupakan gagasan Al-Walid ini. Perhatian pada
Masjid ini juga dilakukan oleh Khalifah-Khalifah Bani Umayyah setelahnya.
Perkembangan lain yang menggembirakan adalah makin meluasnya pendidikan Agama
Islam. Sebagai ajaran baru, Islam sungguh menarik minat penduduk untuk
mempelajarinya. Masjid dan tempat tinggal ulama merupakan tempat yang utama
untuk belajar agama. Bagi orang dewasa, biasanya mereka belajar tafsir
Al-Quran, hadist, dan sejarah Nabi Muhammad SAW. Selain itu, filsafat juga
memiliki penggemar yang tidak sedikit. Adapun untuk anak-anak, diajarkan baca
tulis Arab dan hafalan Al-Quran dan Hadist. Pada masa itu masyarakat sangat
antusias dalam usahanya untuk memahami Islam secara sempurna. Jika pelajaran
Al-Quran, hadist, dan sejarah dipelajari karena memang ilmu yang pokok untuk
memahami ajaran Islam, maka filsafat dipelajari sebagai alat berdebat dengan
orang-orang Yahudi dan Nasrani yang waktu itu suka berdebat menggunakan ilmu
filsafat. Sedangkan ilmu-ilmu lain seperti ilmu alam, matematika, dan ilmu
social belum berkembang. Ilmu-ilmu yang terakhir ini muncul dan berkembang
denga baik pada masa dinasti Bani Abbasiyah maupun Bani Umayyah Spanyol.
Bidang seni dan budaya pada masa itu juga mengalami perkembangan yang maju.
Karena ajaran Islam lahir untuk menghapuskan perbuatan syirik yang menyembah
berhala, maka seni patung dan seni lukis binatang maupun lukis manusia tidak
berkembang. Akan tetapi, seni kaligrafi, seni sastra, seni suara, seni
bangunan, dan seni ukir berkembang cukup baik. Di masa ini sudah banyak
bangunan bergaya kombinasi, seperti kombinasi Romawi-Arab maupun Persia-Arab.
Apalagi, bangsa Romawi dan Persia sudah memiliki tradisi berkesenian yang
tinggi. Khususnya dalam bidang seni lukis, seni patung maupun seni arsitektur
bangunan. Contoh dari perkembangan seni bangunan ini, antara lain adalah
berdirinya Masjid Damaskus yang dindingnya penuh dengan ukiran halus dan
dihiasi dengan aneka warna-warni batu-batuan yang sangat indah. Perlu diketahui
bahwa untuk membangun Masjid ini, Khalifah Walid mendatangkan 12.000 orang ahli
bangunan dari Romawi. Tetapi di antara kemajuan-kemajuan yang terjadi pada masa
Daulah Bani Umayyah tersebut, prestasi yang paling penting
dan berpengaruh hingga zaman sekarang adalah luasnya wilayah Islam. Dengan
wilayah yang sedemikian luas itu ajaran Islam menjadi cepat dikenal oleh
bangsa-bangsa lain, tidak saja bangsa Arab.
Perkembangan Islam Masa Dinasti Bani Abbasiyah
Jatuhnya negeri Syiria karena kemenangan pasukan Abbul Abbas pada abad ke-7
dalam perang melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah),
menandai berakhirnya riwayat Dinasti Bani Umayyah sekaligus kebangkitan
kekuasaan Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn
Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbass. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena
para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas. Kekuasaan Dinasti
Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M dengan Baghdad sebagai ibu
kotanya dan monarki sebagai sistem pemerintahannya.
Daulah Bani Abbasiyah
memiliki ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah.
Selain bersifat Arab murni, Dinasti Abbasiyah sedikit banyak telah terpengaruh
corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya.
Sedangkan Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab Oriented, artinya dalam segala
hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitu pula corak
peradaban yang dihasilkan dinasti ini. Dalam penyelenggaraan negara, ada
jabatan Wazir yang membawahi kepala-kepala departemen. Dalam pembagian wilayah
(propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat,
gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak
otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh
al-Qoryah diberi otonomi penuh.
Ketentaraan profesional
yang kuat di bawah panglima sehingga kholifah tidak turun langsung dalam
menangani tentara.Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah
kekuasaan Islam semakin bertambah, meliputi Hijaz, Yaman Utara dan Selatan,
Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir,
Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan, dan meluas sampai
ke Turki, Cina dan juga India. Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa
daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a. Kota-Kota Pusat
Peradaban
Di antara kota pusat
peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan Samarra. Kota Baghdad
menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan yang banyak didatangi
ahli ilmu pengetahuan untuk belajar. Di kota Samarra terdapat 17 istana mungil
yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
b. Bidang Pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I
(750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negarasangat terasasekali dan
benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan
negara. Sedang masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun,
sebab Wazir (perdana mentri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara.
Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah menjadi
boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri
mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh. Dengan demikian pemerintah
pusat tidak ada apa-apanya lagi.
c. Bangunan Tempat Pendidikan dan Peribadatan
antara bentuk
bangunan yang dijadikan lembaga pendidikan adalah madrasah. Terdapat juga
Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah. Majlis Muhadhoroh
sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai
perpustakaan. Ada juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti
masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah
sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di
antaranya adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.
Masa pemerintahan Abul
Abbas As-Saffah sampai Kholifah Al-Watsiq Billah agama Islam mencapai zaman
keemasan (132 – 232 H / 749 – 879 M). Namun, pada masa kholifah Al-Mutawakkil
sampai Al-Mu’tashim, Islam mengalami kemunduran dan keruntuhan. Kehancuran
Dinasti Abbasiyah melalui proses panjang yang diawali oleh berbagai
pemberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah
Abbasiyah. Selain kelemahan Khalifah, beberapa alasan lainnya adalah:
a. Faktor Internal
1. Persaingan antar
Bangsa.
Kecenderungan
masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal
Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, para Khalifah adalah orang-orang kuat
yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan sehingga stabilitas politik dapat
terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta,
dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah
Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir.
2. Kemerosotan Ekonomi.
Kondisi politik yang
tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Kondisi ekonomi yang
buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling
berkaitan dan tak terpisahkan.
3. Konflik Keagamaan.
Konflik yang
melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik
atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam.
4. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan.
Kemajuan besar yang
dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa
untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak
pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi
miskin.
b. Faktor Eksternal
1. Perang Salib yang
berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.
SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA TURKI USMANI
Sejak mundur dan
berakhirnya era Abbasiyah, keadaan politik umat Islam mengalami kemajuan
kembali oleh tiga kerajaan besar : Turki Usmani di Turki, Mughal di India,
dan Safawi di Persia. Dari ketiganya, Turki Usmani adalah yang terbesar dan
terlama, dikenal juga dengan imperium islam. Dengan wilayahnya yang luas
membentang dari Afrika Utara, Jazirah Arab, Balkan hingga Asia Tengah, Turki
Usmani menyimpan keberagaman bangsa, budaya dan agama, Turki Usmani mampu
berkuasa sekitar 6 abad berturut-turut.
Sejarah peradaban Islam
masa turki usmani yang penuh dengan suasana politik, bagaimana kerajaan turki
usmani mampu menjadi kerajaan islam yang paling hebat sepanjang masa, serta
bagaimana pula kerajaan islam sebesar ini bisa runtuh dan akhirnya menjadi
republik turki pada tahun 1924.
Keruntuhan kerajaan
Turki Usmani disebabkan menjadi faktor internal yaitu : Karena luas wilayah kekuasaan serta
buruknya system pemerintahan, sehingga hilangnya keadilan, banyaknya korupsi
dan meningkatnya kriminalitas, Heterogenitas penduduk
dan agama, Kehidupan istimewa yang bermegahan,Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang
pada sebagian besar peperangan turki mengalami kekalahan. Dan Faktor Eksternal yaitu : Munculnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan
turki selama berkuasa, mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut. Kemudian
ketika turki mulai lemah mereka bangkit untuk melawannya, Terjadinya kemajuan
teknologi di barat khususnya bidang persenjataan. Turki selalu mengalami
kekalahan karena mereka masih menggunakan senjata tradisional